Mamak

Pagi-pagi pembahasan menarik saat ini adalah perekonomian rumah tangga.  Mulai dari kesehatan,  sampai masalah naiknya harga beras.  Bukan tak hebat pagi ini, bahkan burung saja sampai tak terdengar kicaunya.  Diam mereka mendengar pembahasan ekonomi rumah tangga.  Atau mereka juga merasakan hal yang sama.

Mamak adalah sosok wanita yang paling sabar,  tangguh, baik hati,  cantik. Mamak selalu merasa kasihan dengan anaknya yang sudah tumbuh seperti pohon yang kokoh.  Beliau selalu berkata,  “kau pergi pagi pulang malam.  Bahkan kadang tak pulang kalau sudah bekerja.  Aku kasihan melihat kau nak.”  Itulag mamak yang selalu sibuk memikirkan bagaimana anaknya nanti di masa depan.

Mamak selalu was-was. Tapi,  mamak tidak perlu takut kalau anaknya harus cari makan dari pagi hingga malam,  atau tak pulang.  Karena hidup memang begitu.  Anak akan bekerja untuk perekonomian rumah tangga.  Mamak dulu juga begitu.  Memikirkan uang air, listrik,  sekolah,  makan,  dll.  Sekarang gilirian anaknya mak.

Mamak selalu bilang, “bukan tanggung jawabmu nak mengurusi ini semua. Kau masih tanggung jawab kami.” Anak akan selalu bertanya,  “Jadi kapan tanggung jawabku mak? Sudah mamak sekolahkan,  dan seperti sekarang ini,  masa aku tidak boleh bertanggung jawab?”

Mamak kan tahu kalau hidup itu seperti roda yang berputar.  Kadang di atas,  kadang di bawah.  Kadang sehat,  kadang sakit.  Umur semakin lama akan menua.  Tak mungkin anak membiarkan mamak menua dengan bekerja.

Kalau mamak melihatku begini,  ini pertanda kalau mamak sudah mengajari anaknya tentang hidup, bersyukur,  kerja keras,  tanggung jawab, peduli dan berkasih sayang. Walaupun terkadang anaknya lupa menelpon menanya kabar,  terlambat pulang hingga tak sempat mengobrol,  atau bahkan lupa cuci piring di pagi hari karena buru-buru berangkat bekerja.  Tapi mamak harus tahu,  kalau ini cara anaknya mengabdi.

Advertisements

KAMU

Aku tak tahu, apa ini pertanda bahwa pertemuan ini menjadi pelepas rindu yang sudah menahun. Tapi, aku percaya bahwa Tuhan punya cara untuk kita bertemu, berpisah dan bertemu kembali. Tetap jadi kamu yang terbaik. Aku hanya ingin waktu terus berjalan. Masih ada cerita, tawa, canda, sedih bersama. Terima kasih sudah mengingatku. Tetap seperti itu, hingga nanti saat kita menua.

Dekat-Mu

Jangan bersedih jika mereka jauh darimu

Jangan takut karena Aku selalu berada di dekatmu

Jangan bimbang jika godaan akan terus merpa

Jangan putus asa ketika berusaha

Ingatlah bahwa Aku ada didekatmu

Jangan berhenti untuk lebih dekat, karena jika kau dekat dengan-Ku, maka Aku akan semakin dekat

Ingatlah bahwa Aku adalah tempatmu untuk bersandar

Karena tidak ada selain-Ku.

PENDUSTA

Mungkin hari ini semua amarah itu akan meledak. Sampai dia pun akan terdiam di pojok sisi kamar. Airmata akan mengalir hari ini, hingga dosa dan rasa bersalah itu akan datang menjadi kecamuk dalam diri. Apa yang hanya bisa dilakukan? Apakah maaf saja cukup? Atau rasa maaf tak lagi bisa diberikan pada dia seorang yang pendusta?

Mata tak henti melihat jam dinding. Seakan waktu semakin cepat berputar dan saat itu dia bertemu. Sesaat dia terdiam, seakan aliran darah terhenti. Pompa jantung tak lagi berdetak. Dia menatap seakan semua rasa luluh lantah menjadi rasa kecewa yang teramat sangat. Dia menatap seakan harapan itu hilang. Dia tak marah, hanya saja airmata itu mengalir tanpa henti. Maaf tak lagi mengampuni. Dia berkata itu kebohongan, dan itu sakit. Sakit hingga kedalam relung. Maaf saja tak cukup, hingga butuh waktu hingga dia tersenyum melihat sosok pendusta.

Kalian Luar Biasa!

Tak tahu apa yang harus aku ungkapkan saat ini kepada Tuhan. Hal yang tak pernah ku nilai bahwa di setiap harinya aku bertemu dengan orang-orang yang selalu memberiku pelajaran yang berharga dalam menghargai hidup. Bertemu dengan anak-anak pintar dan tangguh yang Tuhan ciptakan. Pastinya mereka sangat luar biasa.

Beberapa minggu aku mencoba untuk mengenal mereka. Memahami apa yang salah dari mereka. Apa hanya karena mereka dari kelompok minoritas yang ingin menjadi baik untuk sesama, atau hanya pandangan kita saja yang merasa bahwa ideologi kita yang selalu benar. Bahkan kita tahu bahwa tak ada kebenaran yang hakiki di dunia ini.

Bercengkrama, bermain bersama membuka hal baru dalam pemikiranku, bahwa masih ada kelompok orang pintar yang ingin membangun bangsa, mengembalikan nilai-nilai luhur yang mungkin saja sudah kita lupa. Padahal Soekarno dulu sudah bersusah payah membangun nilai-nilai itu dibenak kita.

Apa yang salah ketika mereka memikirkan sesuatu hal yang tak dipikirkan oleh orang lain. Saat itu kita tak pernah tahu apakah yang salah akan memang salah dan yang benar memang tetap benar, atau malah sebaliknya. Kita tak pernah tahu akan berpihak ke pada yang benar ataupun yang salah.

“Apa yang kakak pikirkan tentang kami?”.

Kalimat yang tak pernah terpikirkan olehku. Aku tak menyangka mereka menanyakan hal itu. Hal tak bisa ku jawab menurutku. Karena aku tak pernah berpikirkan hal yang aneh atau apapun itu sesuang dengan apa yang mereka pikirkan. Apa pentingnya pemikiran ku tentang mereka, itu menurutku dalam hati. Tapi aku tahu bahwa mereka membutuhkan jawaban yang pasti tentang pertanyaan mereka.

Aku hanya mengatakan bahwa, “kalian anak yang luar biasa!”. Hanya itu yang bisa aku lontarkan dari mulutku. Hanya ada itu yang terlintas di benakku. Aku juga merasakan hal yang sama, bahwa mereka memang luar biasa. Tak ada yang pernah menyangka bahwa perjuangan mereka menjadikannya anak-anak yang tangguh dan cerdas.

Rasa ingin tahuku semakin memuncak. Semua pertanyaan berada di dalam kepala. Semua pertanyaan sangat ingin ku lontarkan. Hanya saja aku tak mau rasa tahuku menjadikan mereka menjauh. Aku menahan semua rasa yang ku punya. Mulut hanya bisa terkunci dan setiap tanya mencoba mendobrak rasa itu. “Tenang rah”, aku mencoba berdamai dengan pikiranku sendiri. Aku tak ingin membahas masalah itu. Aku mengurungkan niat.

Aku mencoba mengajak mereka untuk lebih belajar dari setiap hal yang mereka alami. Bahwa Tuhan selalu baik dan memberikan hal yang tak pernah disangka-sangka. Sedih memang ketika melihat kebersamaan mereka tak dapat terjalin lagi seperti biasanya. Mungkin disana mereka belajar bersama, menanam, dan bermain bersama. Tapi suasana itu tidak akan mereka rasakan lagi. Ada rasa sedih dan kerinduan yang mereka rasakan. Aku melihatnya dari tatapan mata mereka. Rindu itu masih ada disana. Aku melihatnya ketika begitu gembiranya mereka menerima setiap surat yang kami antar kepada anak-anak yang lainnya. Seakan menerima sepucuk surat dari kekasih hati.

Aku percaya bahwa mereka memang beda dari anak-anak yang lain. Mereka adalah bagian dari ketidaktahuan kita, bagian dari ketidakpedulian kita, mereka hanya ingin menjadi sesuatu yang berguna untuk sesama. Hanya itu yang ku lihat. Tuhan, ketika mereka tidak bersama, biarkan lah semangat mereka masih membara untuk sesama. Berikanlah mereka rasa percaya bahwa Engkau tak pernah membiarkan mereka sendiri. Jadikan mereka anak-anak yang luar biasa. Mungkin mereka bisa menjadi pemimpin buat negara. Aku belajar banyak dari mereka. Anak-anak yang luar biasa. Semoga kalian selalu menginspirasi.

Melepas Rindu

C360_2016-03-26-12-51-53-297

“Saraaaaaahhhh….”, teriak anak laki-laki menghampiriku sambil berlari dan memelukku. Terlihat senyum terpancar dari mulut kecilnya. Y (insial) adalah salah satu anak Rohingya yang aku bina sekitar delapan bulan yang lalu. Sudah tiga bulan tidak mengunjungi mereka, membuat mereka antusias saat melihatku. Tak hanya Y saja, adiknya A(inisial) berlari dari kejauhan dan melompat kearahku dan memelukku dengan erat. Serasa tak ingin dilepaskan.

Hal ini yang terkadang tak ingin lepas dari mereka. Melihat mereka tersenyum, belajar bersama, bermain bersama, seakan hidup tak banyak masalah. Tak ada yang menyangka kehidupan mereka tidak terlepas dari konflik. Hidup yang tak layak, tidak mendapat perlindungan dan hak-hak mereka sebagai seorang anak.

Aku mengingat dimana pertama kali aku bertemu dengan mereka. Susah untuk berinteraksi, tatapan mata yang kosong, susah untuk dekat dengan orang lain dan agresi. Tapi, berbeda dengan sekarang. Banyak hal yang berubah. Mereka berkembang lebih baik dari yang pernah terpikirkan olehku. Mereka menjadi anak yang aktif, saling berbagi, ramah, dan rajin belajar.

Rasa senang di hati tak henti-henti aku mengucap syukur kepada Tuhan, yang telah memberikan mereka kebahagiaan  saat ini. Melihat mereka sudah bisa berhitung, mengeja, saling berbagi bahkan tidak malas mandi, membuatku bahagia. Aku percaya bahwa tak ada anak yang tak ingin hidup layak seperti mereka. Hanya saja Tuhan memberi bahagia dengan cara yang berbeda, sama dengan mereka.

Hidup di pengungsian bukan hal yang mereka inginkan. Jauh dari keluarga, tidak berada di tempat kelahiran mereka. Tapi lihatlah, mereka masih bisa tersenyum bahagia.

Mereka banyak mengajarkan arti kehidupan buatku. Belajar sabar, ikhlas, dan rasa syukur yang teramat besar kepada Tuhan. Kali ini, Tuhan punya cari lain menemukanku kembali dengan mereka. Cara yang tak pernah ku sangka dan membuatku bahagia. Melepas rindu dengan mereka, bagian besar dari nikmat Tuhan yang tidak bisa ku pungkiri. Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali.